Pengaruh dan Keterkaitan Bahasa Inggris Terhadap
Pendidikan Karakter di SMK 4 Sarolangun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam berkomunikasi bahasa merupakan suatu keharusan dan modal yang
mampu menunjukkan identitas diri. Baik dari situasi formal maupun non formal.
Bahkan bahasa yang dianggap sebagai budaya berpengaruh besar terhadap
pembentukan karakter anak anak usia dini. Seseorang mulai mengenal bahasa sejak
di lingkungan keluarga, kemudian berlanjut ke lingkungan sekolah, dan
masyarakat. Ini semua yang disebut lingkungan pendidikan. yang
memiliki pengaruh besar dalam pendidikan anak, karena proses pendidikan selalu
berlangsung dalam lingkungan tertentu yang berhubungan dengan ruang dan waktu. Lalu bagaimana proses pendidikan yang berlangsung diluar sekolah?
tentu saja besar pengaruhnya, lingkungan masyarakat merupakan lingkungan ketiga
dalam proses pembentukan kepribadian seseorang sesuai keberadaannya.
Namun pendidikan yang ada di lingkungan kita belum mampu memberikan nilai lebih
sehingga mampu membuat seseorang menjadi mudah menghadapi masa depannya dengan
baik.
Pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai
dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3,
yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Sedangkan salah satu untuk mendapatkan pendidikan dengan nilai nilai
mulia, berakhlak, kreatif dan memiliki karakter sesuai budaya bangsa dapat
diperoleh melalui penggunaan bahasa yang baik. Bahasa ternyata memiliki peranan
dalam pengelolahan dan menciptakan generasi penerus yang memiliki nilai lebih.
Dengan alasan itulah perlunya menganalisa lebih jauh bagaimana peran bahasa
dalam pendidikan karakter.[1]
Dari segi fonologi, gramatikal,
dan semantik kemampuan seorang anak dalam memahami maksud dan tujuan yang
disampaikan oleh penutur berbeda-beda. Dilihat dari segi neurologi bahasa,
proses dan perilaku berbahasa lebih bersifat dua arah, yaitu antara penutur dan
pendengar yang semua dikendalikan oleh otak yang merupakan alat pengatur dan
pengendali gerak semua aktivitas manusia. Pada otak manusia ada bagian-bagian
yang sifatnya disebut manusiawi, seperti bagian-bagian yang berkenaan dengan
pendengaran, ujaran, dan pengontrolan alat ujaran (Chaer, 2003: 116).
Pemerolehan bahasa kedua
khususnya bahasa asing yang dilakukan di kelas tentunya lebih banyak dilakukan
dengan sistem pembelajaran. Pembelajaran bahasa Inggris mulai jenjang sekolah
dasar (SD) memberikan kesempatan kepada peserta didik sejak dini untuk belajar
bahasa Inggris[2]. Pemerintah secara khusus
memberikan perhatian pada pembelajaran bahasa Inggris dengan memberlakukan
kurikulum 2004 melalui kurikulum muatan lokal, tertuang dalam Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
Peraturan Menteri Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Peraturan Menteri
Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompentensi Kelulusan (Chodidjah, 2007: 5).
Menyikapi
hal tersebut diatas, penulis lebih memilih pada pendapat yang ketiga. Untuk itu
dalam makalah ini penulis mengambil judul "
Pengaruh dan Keterkaitan Bahasa Inggris Terhadap
Pendidikan Karakter di SMK 4 Sarolangun Jambi"
B.
Rumusan Masalah
Pembelajaran
Bahasa Inggris yang konvensional cenderung berpusat pada guru dan mengabaikan
keberadaan peserta didik. Pembelajaran bahasa Inggris yang baik tidak hanya
mengembangkan kemampuan kognitif namun juga menanamkan nilai pada diri peserta
didik. Nilai-nilai pendidikan karakter bangsa pada mata pelajaran bahasa
Inggris adalah bersahabat/komunikatif, peduli sosial, rasa ingin tahu,
demokratis, mandiri, kerja keras, disiplin, dan senang membaca. Nilai-nilai
pendidikan karakter bangsa dapat ditanamkan pada diri peserta didik dengan
pembelajaran bahasa Inggris secara kontekstual[3].
Konsep constructivism, inquiry, dan questioning relevan dengan nilai-nilai
mandiri, kerja, dan rasa ingin tahu. Sedangkan, nilai-nilai bersahabat/
komunikatif, peduli sosial, disiplin, gemar membaca, dan demokratis dapat ditanamkan
dengan konsep learning community, modeling, reflection, dan authentic
assessment. Prosedur pembelajaran bahasa Inggris yang berkarakter adalah
membuat peserta didik mengkonstruksi pengetahuan bahasa Inggris secara aktif,
memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, berdiskusi dalam kelompok, dan
bekerja dalam kelompok. Di samping itu, guru menghadirkan model sebagai contoh
pembelajaran, melakukan refleksi di akhir pertemuan, dan melakukan penilaian
proses.
Penyaji mencoba menganalisis permasalahan tentang pengaruh bahasa
terhadap pendidikan karakter antara lain yaitu;
1. Bagaimana
kaitan bahasa Inggris dalam pendidikan karakter?
2. Bagaimana
pengaruh bahasa Inggris dalam pendidikan karakter?
C.
Batasan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada beberapa masalah yang
berhubungan dengan keterlibatan guru dan siswa di dalam pembelajaran bahasa
Inggris di kelas XI Jurusan perhotelan SMK Negeri 4 Sarolangun yang diperoleh
berdasarkan observasi dari tanya jawab, diklasifikasikan dan dipilih melalui
pemikiran bersama pihak-pihak yang terkait yang dalam hal ini diantaranya
kepala sekolah SMK Negeri Sarolangun, wali kelas XI Jurusan Perhotelan dan
siswa-siswi kelas XI Jurusan perhotelan SMK Negeri 4 Sarolangun Jambi.
D.
Tujuan Penelitian
Salah satu misi mewujudkan visi
bangsa Indonesia masa depan telah termuat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara
yaitu mewujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan
bermutu guna memperteguh akhlak mulia, kreatif,
inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisiplin dan
bertanggungjawab, berketerampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam rangka mengembangkan kualitas manusia Indonesia Terlihat dengan
jelas GBHN mengamanatkan arah kebijakan di bidang pendidikan yaitu:
meningkatkan kemampuan akademik dan
profesional serta meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan
sehingga tenaga pendidik mampu berfungsi secara optimal terutama dalam
peningkatan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat mengembalikan wibawa
lembaga dan tenaga kependidikan.
Penelitian ini
dilakukan dengan tujuan untuk :
1.
Guru dapat mengatasi
kesulitannya dalam penerapan model pembelajaran berkarakter dan memadukannya
pada mata pelajaran bahasa inggris
2.
Mewujudkan visi bangsa
Indonesia yang demokratis, mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa
E.
Pandangan Teoritis
Bahasa Inggris adalah salah satu
media komunikasi yang berbentuk lisan maupun tertulis. Bisa atau mampu
menggunakan bahasa Inggris, merupakan tuntutan hidup saat ini karena hampir
semua media elektronik yang kita gunakan, diprogram dengan menggunakan bahasa
Inggris, Contoh kecilnya adalah Hand Phone dan Komputer. pelajaran Bahasa
Inggris memiliki empat skill atau keterampilan yaitu: Reading (Membaca),
Speaking (Berbicara), Writing (Menulis) dan Listening (Mendengarkan).[4]
Salah
satu tantangan pendidikan ke depan adalah menanamkan karakter dalam kehidupan
siswa sehari-hari. Oleh kemendikbud, selaku otoritas tertinggi pendidikan di
Indonesia, pendidikan karakter adalah suatu kewajiban yang harus masuk ke dalam
proses belajar mengajar. Masalah yang timbul, sebagai guru bahasa Inggris
adalah menanamkan karakter yang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia namun
tetap mengajarkan bahasa Inggris di dalamnya. Untuk itulah, dalam tulisan ini,
penulis mencoba membagi pengalaman mengajarkan pendidikan karakter saat praktik
mengajar di SMK Negeri 4 Sarolangun,
Pembelajaran
Bahasa Inggris yang konvensional cenderung berpusat pada guru dan mengabaikan
keberadaan peserta didik. Pembelajaran bahasa Inggris yang baik tidak hanya
mengembangkan kemampuan kognitif namun juga menanamkan nilai pada diri peserta
didik. Nilai-nilai pendidikan karakter bangsa pada mata pelajaran bahasa
Inggris adalah bersahabat/komunikatif, peduli sosial, rasa ingin tahu,
demokratis, mandiri, kerja keras, disiplin, dan senang membaca. Nilai-nilai
pendidikan karakter bangsa dapat ditanamkan pada diri peserta didik dengan
pembelajaran bahasa Inggris secara kontekstual. Konsep constructivism, inquiry,
dan questioning relevan dengan nilai-nilai mandiri, kerja, dan rasa ingin tahu.
Sedangkan, nilai-nilai bersahabat/ komunikatif, peduli sosial, disiplin, gemar
membaca, dan demokratis dapat ditanamkan dengan konsep learning community,
modeling, reflection, dan authentic assessment. Prosedur pembelajaran
bahasa Inggris yang berkarakter adalah membuat peserta didik mengkonstruksi
pengetahuan bahasa Inggris secara aktif, memperoleh pengetahuan melalui
pengalaman, berdiskusi dalam kelompok, dan bekerja dalam kelompok. Di samping
itu, guru menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, melakukan refleksi di
akhir pertemuan, dan melakukan penilaian proses.[5]
a. Fungsi pembelajaran bahasa:
·
Bahasa memiliki peran sentral dalam
perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan
penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.
·
Pembelajaran bahasa diharapkan
membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain.
·
Selain itu, pembelajaran bahasa juga
membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi
dalam masyarakat, dan bahkan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan
imaginatif yang ada dalam dirinya.
b. Karakteristik bahasa inggris:
- Bahasa
Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis.
- Berkomunikasi
adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan
mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya.
- Kemampuan
berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni
kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang
direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan,
berbicara, membaca dan menulis.
- Keempat
keterampilan inilah yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan
wacana dalam kehidupan bermasyarakat.
Oleh karena
itu, mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan
keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan
berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi tertentu.
Pendidikan karakter adalah pendidikan yang tujuannya membentuk
kepribadian peserta didiknya supaya memiliki karakter yang baik. Model
pendidikan karakter merupakan jawaban atas sistem pendidikan di Indonesia yang
lebih menekankan aspek kognitif ketimbang aspek kecerdasan emosi, sosial,
motorik, kreativitas, imajinasi, dan spiritual.[6]
Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi
etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW
Foerster (1869-1966). Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan
pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan.
Penelitian ini mempunyai dua manfaat, yang pertama yaitu manfaat
teoretis dan kedua manfaat praktis.
1.
Manfaat Teoretis
Dari segi teoretis, penelitian ini dapat
menyingkap makna yang lebih mendalam tentang pentingnya nilai nilai yang
ditanamkan dalam pendidikan karakter khususnya para pelajar maupun masyarakat
luas, sebab pendidikan merupakan masalah dasar yang amat penting dan bernilai
dalam kehidupan masyarakat. Disamping itu pemakalah berharap ini menjadi suatu konsep yang
bersifat pengabdian masyarakat.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis
penelitian ini sangat bermanfaat antara lain
a.
Bagi pendidik yang berorientasi pada pemberian pendidikan baik dilingkungan
formal maupun non formal
b.
Memberikan informasi pada masyarakat yang memperhatikan dunia pendidikan
dan tentang manfaat yang diperoleh dari bahasa
c.
Menunjukkan pula pada masyarakat terutama orang tua tentang pentingnya pemahaman
secara mendalam yang terkandung pada sebuah bahasa, dengan harapan lebih banyak
lagi masyarakat yang menggunakan bahasa sebagai salah satu media pembentukan
karakter yang baik, dikehidupan sosial pada umumnya.
d.
Peneliti berharap bahwa dengan adanya penggunaan bahasa yang baik, mampu
dimanfaatkan sebagai penanaman nilai-nilai.
Tujuan
pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan
esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi
Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi.
Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu
berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.
Untuk
mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah terdapat empat tawaran model
penerapan, yaitu
1) Model
otonomi dengan menempatkan pendidikan karakter sebagai mata pelajaran
tersendiri,
2) Model integrasi dengan menyatukan nilai-nilai dan karakter-karakter yang
akan dibentuk dalam setiap mata pelajaran,
3) Model
ekstrakurikuler melalui sebuah kegiatan tambahan yang berorintasi pembinaan
karakter siswa, dan
4) Model
kolaborasi dengan menggabungkan ketiga model tersebut dalam seluruh kegiatan
sekolah.
F.
Metodologi Penelitian
a)
Pilihan
Paradigma
Paradigma adalah cara pandang seorang ilmuwan dari sisi strategis yang paling menentukan nilai dari sebuah disiplin ilmu pengetahuan (Bungin, 2005: 205). Paradigma juga bisa dikatakan sebagai cara pandang seseorang dalam melihat suatu gejala sosial (Prasetyo,
2005: 25).
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah positivisme. Paradigma positivisme adalah suatu paradigma yang terorganisir untuk mengkombinasikan deductive logic dan pengamatan empiris dari
perilaku individu, yang berguna secara probabilistik menemukan atau
memperoleh konfirmasi tentang sebab-akibat yang bisa dipakai untuk
memprediksi pola umum
dari kegiatan manusia (Neumann, 2005: 140).
b)
Metode
Penelitian
Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah survey
dengan cara menyebarkan kuesioner. Menurut Rosady Ruslan, pengumpulan data
merupakan suatu langkah dalam metode ilmiah melalui prosedur sistematik, logis,
dan proses pencarian data yang valid, baik diperoleh secara langsung (data
primer) maupun data yang tidak langsung (data sekunder) untuk keperluan
analisis dan pelaksanaan pembahasan suatu riset secara benar untuk menemukan
kesimpulan, memperoleh jawaban dan sebagai upaya untuk memecahkan suatu
persoalan yang dihadapi oleh peneliti. (Ruslan, 2004: 27).
Hasil dari
survey terhadap sampel tersebut kemudian digeneralisasikan atau diberlakukan
kepada populasi. Penelitian survey biasanya didefinisikan sebagai sebuah
penelitian atau penelitian tentang kelompok besar melalui penelitian langsung
dari subset (sampel) dari kelompok tersebut[7]
Penelitian ini bersifat deskriptif. Penelitian
deskriptif dilakukan untuk memberikan
gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena. Hasil akhir pada penelitian deskriptif biasanya berupa
tipologi atau pola-pola mengenai fenoma yang sedang dibahas. (Prasetyo,
2005: 42)
c)
Pilihan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI Jurusan perhotelan SMK Negeri 4
Sarolangun yang berlokasi di Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Kelas XI
terdiri dari 39 siswa antaranya 12 siswa putra dan 27 siswa putri. Mata
pelajaran bahasa Inggris dilaksanakan 2 (dua) kali dalam satu minggu (4 jam
pelajaran) dan setiap pertemuan selama 40 menit setiap per jam pelajaran.
Berdasarkan kondisi kelas XI jurusan perhotelan, kemudian peneliti
menentukan bahwa kelas tersebut memerlukan beberapa peningkatan, baik media
pembelajarannya, materi pelajaran. Peneliti akan mencoba untuk meningkatkan dan
menerapkan pendidikan karakter dalam pembelajaran bahasa inggris.
d)
Jenis Data
Dari segi pengumpulan data, peneliti berusaha membagi
ke dalam dua jenis metode pengumpulan yakni
1. Data Primer
Pengertian dari data primer adalah data yang dihimpun
secara langsung dari sumbernya dan diolah sendiri oleh lembaga yang bersangkutan untuk dimanfaatkan (Ruslan, 2004:38). Metode survey dilakukan dengan menyebarkan kuesioner yakni suatu cara pengumpulan data dengan menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden (yang telah ditentukan) (Umar, 2003: 46). Kuesioner akan disebarkan ke siswa SMK Negeri 4 sarolangun. Pengisianakan dilakukan melalui self administrated
questionnaire atau pengisian
secara mandiri yakni pengisian dengan cara peneliti memberikan pada responden secara langsung dan meminta responden untuk mengisi (Prasetyo, 2005: 50).
2. Data Sekunder
Pengertian dari data sekunder adalah data penelitian
yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara yang dihasilkan oleh pihak lain atau digunakan oleh lembaga lain yang bukan merupakan pengolahannya tetapi dapat dimanfaatkan dalam suatu penelitian tertentu (Ruslan, 2004: 138).
e)
Sumber Data
Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah
subyek dari mana data dapat diperoleh[8]. Pada dasarnya sumber
data dalam penelitian ini penulis peroleh dari kepala sekolah, dewan guru dan
wali kelas serta dokumentasi SMK Negeri 4 Sarolangun dan sebagian siswa baik
yang berkenaan dengan pembelajaran bahasa Inggris maupun data-data lain yang
penulis perlukan. Subjek penelitian ini adalah
siswa kelas XI Jurusan Perhotelan SMK Negeri 4 Sarolangun dengan jumlah 39
siswa.
f)
Tekhnik Pengumpulan Data
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang
digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang
pribadinya atau halhal yang ia ketahui ( Suharsimi Arikunto 1991 : 140).
Penggunaan metode angket ini yaitu untuk mengetahui pengaruh dan keterkaitan
model pendidikan berkarakter dalam mata pelajaran bahasa inggris di SMK negeri
4 Sarolangun
Tekhnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui
proses sebagai berikut:
a. Pengumpulan data primer yaitu, teknik pengambilan data
yang paling umum dalam penelitian survey bahasa kedua adalah kuisioner.
Kuisioner bisa bervariasi, mulai dari instrumen yang berisi 5 item
pendek, sampai dengan dokumen panjang yang memerlukan satu atau dua jam untuk
menjawabnya.
b. Pengumpulan data Skunder, yaitu yang diperoleh melalui instansi yang terkait dengan masalah
penelitian ini SMK Negeri 4 Sarolangun, dan data dapat diambil dari guru yang
mengajarkan siswa tersebut, yang terkait dengan ruang lingkup penelitian ini.
g)
Pengujian Keabsahan Data
Validitas
adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keabsahan suatu instrument. Suatu instrument
dikatakan valid apabila dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti
secara tepat ( Arikunto, 1998: 160 ).
Untuk
menghitung validitas instrument, angket diujicobakan terhadap 39 subyek yang
tidak termasuk dalam sampel penelitian. Dalam mengukur validitas Kuisoner/angket
peneliti menggunakan analisis perbutir soal. Berdasarkan hasil uji coba, skor
angket ditabulasikan dan dimasukkan dalam rumus korelasi product moment dengan
angka kasar yang dikemukakan oleh Pearson sebagai berikut:

Keterangan:
r = validitas instrument
N = Jumlah responden
X = Skor items
Y = Skor total
(Arikunto Suharsimi, 1998: 160)
Untuk
mengetahui apakah kuisioner yang digunakan valid/ tidak maka yang telah
diperoleh ( r hitung
)
dikonsultasikan dengan r tabel
product
moment dengan taraf signifikan 5%. Apabila r hitung ≥ r tabel
maka
instrument dikatakan valid, apabila r hitung ≤ r tabel
maka
instrument dikatakan tidak valid.
h) Teknik Analisis Data
Yang dimaksud dengan analisa data adalah cara- cara
mengolah data yang terkumpul untuk kemudian dapat memberikan interprestasi.
Pengolahan data ini digunakan untuk menguji hipotesa yang telah dirumuskan.
a.
Analisis deskriptif persentase
Analisis ini digunakan untuk mengetahui bagaimana tingkat
persentase pelaksanaan sistem pembelajaran berkarakter pada indikator
pelaksanaan pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, peningkatan
kualitas pembelajaran, dan lingkungan pembelajaran serta pengaruh dalam
penerapannya. Perhitungan indeks persentase dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
Keterangan:
n
= skor yang diperoleh
N
= skor ideal
%
nilai persentase/ hasil
(
Ali Muhammad, 185;184)
b.
Uji Kenormalan Distribusi Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini lebih dahulu diuji kenormalannya
dengan chi kuadrat.

Keterangan:
k = jumlah kelas interval
Qi = frekuensi pengamatan
Ei = Frekuensi yang diharapkan
Derajat kebebasan untuk rumus di atas (dk)=k-3. Jika X2 data
< ( 1-α ) ( k-3 )
dengan α = 5% berarti data tersebut berdistribusi dengan normal (
Sudjana,
1992; 273).
c.
Untuk mengetahui korelasi antara variabel X dan Y maka
digunakan tehnik korelasi Product moment dari pearson skor halus dengan rumus:
(Arikunto Suharsimi,1998 :162)
d.
Mencari persamaan garis regresi , yaitu untuk mengetahui
ada tidaknya pengaruh antara variabel X dan variabel Y, digunakan tehnik
analisa regresi linier sederhana dengan persamaan:
Y = a + bX
Dalam
mana : Y = Variabel terikat X = Variabel bebas
a,b
= koefisien regresi
(Sutrisno Hadi, 1992: 1)
DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. 2005 tentang sistem
Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) . Bandung: CV Nuansa Mulia.
Kosasih, E. 1998. Kapan Anak Belajar Bahasa
Inggris. http ://www. Indomedia.Com/intisari/1998/September/bing.htm – 18k.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris
Ratna Megawangi. 2008. Pendidikan Karakter. http//www. Jakarta
Arikunto, Suharsimi, 1991 Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek, Yogyakarta, Rineka Cipta.
Anas Sujijono, 2003. Pengantar
Statistik Pendidikan, Jakarta. PT Raja Grafindo Persada
Sutrisno Hadi, Metodologi
Research, Yogjakarta,UGM, 1975.
Hadi, Sutrisno, 1992, Analisis Regresi,
Yogyakarta: Andi
Oemar Hambalik, 2003 Proses Belajar Mengajar,
Jakarta : Bumi Aksara.
Ibnu, S.,
Mukhadis, A dan Dasna, I.W., 2003. Dasar-dasar Metodologi Penelitian, Malang:
Penerbit Universitas Negeri Malang
Nasir, Mohammad. Metode Penelitian. Cet.3.
Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988.
Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi, Metode
Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES, 1987.
[1]
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2003. 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) . Bandung: CV Nuansa Mulia.
[2]
Kosasih, E. 1998. Kapan
Anak Belajar Bahasa Inggris. http ://www. Indomedia.Com/intisari/1998/September/bing.htm
– 18k.
[7] Harus dicermati
bahwa, sementara ini ada definisi prototipe dari penelitian survey yang
bervariasi. Sebagai contoh, sebuah survey mungkin mengandung satu pertanyaan
yang ditanyakan kepada sejumlah besar responden, seperti dalam pertanyaan
sensus. Disamping itu, penelitian survey mungkin juga tumpang tindih dengan
penelitian kasus. Yaitu, metode survey dapat digunakan untuk mengumpulkan data
dalam sebuah kesatuan tunggal yaitu fokus dari sebuah penelitian kasus.
Pertimbangkan contoh ini. Dalam sebuah penelitian kasus terhadap sebuah
sekolah, peneliti mungkin memutuskan untuk mensurvey keseluruhan staff pengajar
(yaitu seluruh populasi guru) dengan menggunakan kuisioner tertulis. Disamping
itu, peneliti tersebut mungkin mensurvey satu sampel dari para guru melalui
wawancara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar