Minggu, 16 Desember 2012

Proposal Tesis


Pengaruh dan Keterkaitan Bahasa Inggris Terhadap Pendidikan Karakter di SMK 4 Sarolangun


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Dalam berkomunikasi bahasa merupakan suatu keharusan dan modal yang mampu menunjukkan identitas diri. Baik dari situasi formal maupun non formal. Bahkan bahasa yang dianggap sebagai budaya berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak anak usia dini. Seseorang mulai mengenal bahasa sejak di lingkungan keluarga, kemudian berlanjut ke lingkungan sekolah, dan masyarakat. Ini semua yang disebut lingkungan pendidikan. yang memiliki pengaruh besar dalam pendidikan anak, karena proses pendidikan selalu berlangsung dalam lingkungan tertentu yang berhubungan dengan ruang dan waktu. Lalu bagaimana proses pendidikan yang berlangsung diluar sekolah? tentu saja besar pengaruhnya, lingkungan masyarakat merupakan lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian seseorang sesuai keberadaannya. Namun pendidikan yang ada di lingkungan kita belum mampu memberikan nilai lebih sehingga mampu membuat seseorang menjadi mudah menghadapi masa depannya dengan baik.
Pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sedangkan salah satu untuk mendapatkan pendidikan dengan nilai nilai mulia, berakhlak, kreatif dan memiliki karakter sesuai budaya bangsa dapat diperoleh melalui penggunaan bahasa yang baik. Bahasa ternyata memiliki peranan dalam pengelolahan dan menciptakan generasi penerus yang memiliki nilai lebih. Dengan alasan itulah perlunya menganalisa lebih jauh bagaimana peran bahasa dalam pendidikan karakter.[1]
Dari segi fonologi, gramatikal, dan semantik kemampuan seorang anak dalam memahami maksud dan tujuan yang disampaikan oleh penutur berbeda-beda. Dilihat dari segi neurologi bahasa, proses dan perilaku berbahasa lebih bersifat dua arah, yaitu antara penutur dan pendengar yang semua dikendalikan oleh otak yang merupakan alat pengatur dan pengendali gerak semua aktivitas manusia. Pada otak manusia ada bagian-bagian yang sifatnya disebut manusiawi, seperti bagian-bagian yang berkenaan dengan pendengaran, ujaran, dan pengontrolan alat ujaran (Chaer, 2003: 116).
Pemerolehan bahasa kedua khususnya bahasa asing yang dilakukan di kelas tentunya lebih banyak dilakukan dengan sistem pembelajaran. Pembelajaran bahasa Inggris mulai jenjang sekolah dasar (SD) memberikan kesempatan kepada peserta didik sejak dini untuk belajar bahasa Inggris[2]. Pemerintah secara khusus memberikan perhatian pada pembelajaran bahasa Inggris dengan memberlakukan kurikulum 2004 melalui kurikulum muatan lokal, tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Menteri Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Peraturan Menteri Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompentensi Kelulusan (Chodidjah, 2007: 5).
Menyikapi hal tersebut diatas, penulis lebih memilih pada pendapat yang ketiga. Untuk itu dalam makalah ini penulis mengambil judul " Pengaruh dan Keterkaitan Bahasa Inggris Terhadap Pendidikan Karakter di SMK 4 Sarolangun  Jambi"

B.       Rumusan Masalah

Pembelajaran Bahasa Inggris yang konvensional cenderung berpusat pada guru dan mengabaikan keberadaan peserta didik. Pembelajaran bahasa Inggris yang baik tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif namun juga menanamkan nilai pada diri peserta didik. Nilai-nilai pendidikan karakter bangsa pada mata pelajaran bahasa Inggris adalah bersahabat/komunikatif, peduli sosial, rasa ingin tahu, demokratis, mandiri, kerja keras, disiplin, dan senang membaca. Nilai-nilai pendidikan karakter bangsa dapat ditanamkan pada diri peserta didik dengan pembelajaran bahasa Inggris secara kontekstual[3]. Konsep constructivism, inquiry, dan questioning relevan dengan nilai-nilai mandiri, kerja, dan rasa ingin tahu. Sedangkan, nilai-nilai bersahabat/ komunikatif, peduli sosial, disiplin, gemar membaca, dan demokratis dapat ditanamkan dengan konsep learning community, modeling, reflection, dan authentic assessment.  Prosedur pembelajaran bahasa Inggris yang berkarakter adalah membuat peserta didik mengkonstruksi pengetahuan bahasa Inggris secara aktif, memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, berdiskusi dalam kelompok, dan bekerja dalam kelompok. Di samping itu, guru menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, melakukan refleksi di akhir pertemuan, dan melakukan penilaian proses.
Penyaji mencoba menganalisis permasalahan tentang pengaruh bahasa terhadap pendidikan karakter antara lain yaitu;
1. Bagaimana kaitan bahasa Inggris dalam pendidikan karakter?
2. Bagaimana pengaruh bahasa Inggris dalam pendidikan karakter?

C.      Batasan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada beberapa masalah yang berhubungan dengan keterlibatan guru dan siswa di dalam pembelajaran bahasa Inggris di kelas XI Jurusan perhotelan SMK Negeri 4 Sarolangun yang diperoleh berdasarkan observasi dari tanya jawab, diklasifikasikan dan dipilih melalui pemikiran bersama pihak-pihak yang terkait yang dalam hal ini diantaranya kepala sekolah SMK Negeri Sarolangun, wali kelas XI Jurusan Perhotelan dan siswa-siswi kelas XI Jurusan perhotelan SMK Negeri 4 Sarolangun Jambi.

D.      Tujuan Penelitian

Salah satu misi mewujudkan visi bangsa Indonesia masa depan telah termuat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara yaitu mewujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu guna memperteguh akhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisiplin dan bertanggungjawab, berketerampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka mengembangkan kualitas manusia Indonesia Terlihat dengan jelas GBHN mengamanatkan arah kebijakan di bidang pendidikan yaitu: meningkatkan kemampuan akademik dan profesional serta meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan sehingga tenaga pendidik mampu berfungsi secara optimal terutama dalam peningkatan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat mengembalikan wibawa lembaga dan tenaga kependidikan.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk :
1.      Guru dapat mengatasi kesulitannya dalam penerapan model pembelajaran berkarakter dan memadukannya pada mata pelajaran bahasa inggris
2.      Mewujudkan visi bangsa Indonesia yang demokratis, mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa

E.       Pandangan Teoritis

Bahasa Inggris adalah salah satu media komunikasi yang berbentuk lisan maupun tertulis. Bisa atau mampu menggunakan bahasa Inggris, merupakan tuntutan hidup saat ini karena hampir semua media elektronik yang kita gunakan, diprogram dengan menggunakan bahasa Inggris, Contoh kecilnya adalah Hand Phone dan Komputer. pelajaran Bahasa Inggris memiliki empat skill atau keterampilan yaitu: Reading (Membaca), Speaking (Berbicara), Writing (Menulis) dan Listening (Mendengarkan).[4]
Salah satu tantangan pendidikan ke depan adalah menanamkan karakter dalam kehidupan siswa sehari-hari. Oleh kemendikbud, selaku otoritas tertinggi pendidikan di Indonesia, pendidikan karakter adalah suatu kewajiban yang harus masuk ke dalam proses belajar mengajar. Masalah yang timbul, sebagai guru bahasa Inggris adalah menanamkan karakter yang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia namun tetap mengajarkan bahasa Inggris di dalamnya. Untuk itulah, dalam tulisan ini, penulis mencoba membagi pengalaman mengajarkan pendidikan karakter saat praktik mengajar di SMK Negeri 4 Sarolangun,
Pembelajaran Bahasa Inggris yang konvensional cenderung berpusat pada guru dan mengabaikan keberadaan peserta didik. Pembelajaran bahasa Inggris yang baik tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif namun juga menanamkan nilai pada diri peserta didik. Nilai-nilai pendidikan karakter bangsa pada mata pelajaran bahasa Inggris adalah bersahabat/komunikatif, peduli sosial, rasa ingin tahu, demokratis, mandiri, kerja keras, disiplin, dan senang membaca. Nilai-nilai pendidikan karakter bangsa dapat ditanamkan pada diri peserta didik dengan pembelajaran bahasa Inggris secara kontekstual. Konsep constructivism, inquiry, dan questioning relevan dengan nilai-nilai mandiri, kerja, dan rasa ingin tahu. Sedangkan, nilai-nilai bersahabat/ komunikatif, peduli sosial, disiplin, gemar membaca, dan demokratis dapat ditanamkan dengan konsep learning community, modeling, reflection, dan authentic assessment.  Prosedur pembelajaran bahasa Inggris yang berkarakter adalah membuat peserta didik mengkonstruksi pengetahuan bahasa Inggris secara aktif, memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, berdiskusi dalam kelompok, dan bekerja dalam kelompok. Di samping itu, guru menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, melakukan refleksi di akhir pertemuan, dan melakukan penilaian proses.[5]
a.      Fungsi pembelajaran bahasa:
·            Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.
·            Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain.
·            Selain itu, pembelajaran bahasa juga membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan bahkan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
b.     Karakteristik bahasa inggris:
  • Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis.
  • Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya.
  • Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.
  • Keempat keterampilan inilah yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan bermasyarakat.
Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi tertentu.
Pendidikan karakter adalah pendidikan yang tujuannya membentuk kepribadian peserta didiknya supaya memiliki karakter yang baik. Model pendidikan karakter merupakan jawaban atas sistem pendidikan di Indonesia yang lebih menekankan aspek kognitif ketimbang aspek kecerdasan emosi, sosial, motorik, kreativitas, imajinasi, dan spiritual.[6]
Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan.
Penelitian ini mempunyai dua manfaat, yang pertama yaitu manfaat teoretis dan kedua manfaat praktis.
1.        Manfaat Teoretis
Dari segi teoretis, penelitian ini dapat menyingkap makna yang lebih mendalam tentang pentingnya nilai nilai yang ditanamkan dalam pendidikan karakter khususnya para pelajar maupun masyarakat luas, sebab pendidikan merupakan masalah dasar yang amat penting dan bernilai dalam kehidupan masyarakat. Disamping itu pemakalah berharap ini menjadi suatu konsep yang bersifat pengabdian masyarakat.
2.    Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini sangat bermanfaat antara lain
a.       Bagi pendidik yang berorientasi pada pemberian pendidikan baik dilingkungan formal maupun non formal
b.      Memberikan informasi pada masyarakat yang memperhatikan dunia pendidikan dan tentang manfaat yang diperoleh dari bahasa
c.       Menunjukkan pula pada masyarakat terutama orang tua tentang pentingnya pemahaman secara mendalam yang terkandung pada sebuah bahasa, dengan harapan lebih banyak lagi masyarakat yang menggunakan bahasa sebagai salah satu media pembentukan karakter yang baik, dikehidupan sosial pada umumnya.
d.      Peneliti berharap bahwa dengan adanya penggunaan bahasa yang baik, mampu dimanfaatkan sebagai penanaman nilai-nilai.
Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.
Untuk mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah terdapat empat tawaran model penerapan, yaitu
1)   Model otonomi dengan menempatkan pendidikan karakter sebagai mata pelajaran tersendiri,
2) Model integrasi dengan menyatukan nilai-nilai dan karakter-karakter yang akan dibentuk dalam setiap mata pelajaran,
3)   Model ekstrakurikuler melalui sebuah kegiatan tambahan yang berorintasi pembinaan karakter siswa, dan
4)   Model kolaborasi dengan menggabungkan ketiga model tersebut dalam seluruh kegiatan sekolah.

F.       Metodologi Penelitian

a)        Pilihan Paradigma
Paradigma adalah cara pandang seorang ilmuwan dari sisi strategis yang paling menentukan nilai dari sebuah disiplin ilmu pengetahuan (Bungin, 2005: 205). Paradigma juga bisa dikatakan sebagai cara pandang seseorang dalam melihat suatu gejala sosial (Prasetyo, 2005: 25).
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah positivisme. Paradigma positivisme adalah suatu paradigma yang terorganisir untuk mengkombinasikan deductive logic dan pengamatan empiris dari perilaku individu, yang berguna secara probabilistik menemukan atau memperoleh konfirmasi tentang sebab-akibat yang bisa dipakai untuk memprediksi pola umum dari kegiatan manusia (Neumann, 2005: 140).

b)        Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah survey dengan cara menyebarkan kuesioner. Menurut Rosady Ruslan, pengumpulan data merupakan suatu langkah dalam metode ilmiah melalui prosedur sistematik, logis, dan proses pencarian data yang valid, baik diperoleh secara langsung (data primer) maupun data yang tidak langsung (data sekunder) untuk keperluan analisis dan pelaksanaan pembahasan suatu riset secara benar untuk menemukan kesimpulan, memperoleh jawaban dan sebagai upaya untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi oleh peneliti. (Ruslan, 2004: 27).
Hasil dari survey terhadap sampel tersebut kemudian digeneralisasikan atau diberlakukan kepada populasi. Penelitian survey biasanya didefinisikan sebagai sebuah penelitian atau penelitian tentang kelompok besar melalui penelitian langsung dari subset (sampel) dari  kelompok tersebut[7]
Penelitian ini bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena. Hasil akhir pada penelitian deskriptif biasanya berupa tipologi atau pola-pola mengenai fenoma yang sedang dibahas. (Prasetyo, 2005: 42)

c)         Pilihan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI Jurusan perhotelan SMK Negeri 4 Sarolangun yang berlokasi di Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Kelas XI terdiri dari 39 siswa antaranya 12 siswa putra dan 27 siswa putri. Mata pelajaran bahasa Inggris dilaksanakan 2 (dua) kali dalam satu minggu (4 jam pelajaran) dan setiap pertemuan selama 40 menit setiap per jam pelajaran.
Berdasarkan kondisi kelas XI jurusan perhotelan, kemudian peneliti menentukan bahwa kelas tersebut memerlukan beberapa peningkatan, baik media pembelajarannya, materi pelajaran. Peneliti akan mencoba untuk meningkatkan dan menerapkan pendidikan karakter dalam pembelajaran bahasa inggris.

d)        Jenis Data
Dari segi pengumpulan data, peneliti berusaha membagi ke dalam dua jenis metode pengumpulan yakni
1. Data Primer
Pengertian dari data primer adalah data yang dihimpun secara langsung dari sumbernya dan diolah sendiri oleh lembaga yang bersangkutan untuk dimanfaatkan (Ruslan, 2004:38). Metode survey dilakukan dengan menyebarkan kuesioner yakni suatu cara pengumpulan data dengan menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden (yang telah ditentukan) (Umar, 2003: 46). Kuesioner akan disebarkan ke siswa SMK Negeri 4 sarolangun. Pengisianakan dilakukan melalui self administrated questionnaire atau pengisian secara mandiri yakni pengisian dengan cara peneliti memberikan pada responden secara langsung dan meminta responden untuk mengisi (Prasetyo, 2005: 50).

2. Data Sekunder
Pengertian dari data sekunder adalah data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara yang dihasilkan oleh pihak lain atau digunakan oleh lembaga lain yang bukan merupakan pengolahannya tetapi dapat dimanfaatkan dalam suatu penelitian tertentu (Ruslan, 2004: 138).




e)         Sumber Data
Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh[8]. Pada dasarnya sumber data dalam penelitian ini penulis peroleh dari kepala sekolah, dewan guru dan wali kelas serta dokumentasi SMK Negeri 4 Sarolangun dan sebagian siswa baik yang berkenaan dengan pembelajaran bahasa Inggris maupun data-data lain yang penulis perlukan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI Jurusan Perhotelan SMK Negeri 4 Sarolangun dengan jumlah 39 siswa.

f)         Tekhnik Pengumpulan Data
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau halhal yang ia ketahui ( Suharsimi Arikunto 1991 : 140). Penggunaan metode angket ini yaitu untuk mengetahui pengaruh dan keterkaitan model pendidikan berkarakter dalam mata pelajaran bahasa inggris di SMK negeri 4 Sarolangun
Tekhnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui proses sebagai berikut:
a.       Pengumpulan data primer yaitu, teknik pengambilan data yang paling umum dalam penelitian survey bahasa kedua adalah kuisioner. Kuisioner bisa bervariasi, mulai dari  instrumen yang berisi 5 item pendek, sampai dengan dokumen panjang yang memerlukan satu atau dua jam untuk menjawabnya.
b.      Pengumpulan data Skunder, yaitu yang diperoleh melalui instansi yang terkait dengan masalah penelitian ini SMK Negeri 4 Sarolangun, dan data dapat diambil dari guru yang mengajarkan siswa tersebut, yang terkait dengan ruang lingkup penelitian ini.



g)        Pengujian Keabsahan Data
Untuk menghitung validitas instrument, angket diujicobakan terhadap 39 subyek yang tidak termasuk dalam sampel penelitian. Dalam mengukur validitas Kuisoner/angket peneliti menggunakan analisis perbutir soal. Berdasarkan hasil uji coba, skor angket ditabulasikan dan dimasukkan dalam rumus korelasi product moment dengan angka kasar yang dikemukakan oleh Pearson sebagai berikut:


Keterangan:
r = validitas instrument
N = Jumlah responden
X = Skor items
Y = Skor total
(Arikunto Suharsimi, 1998: 160)
Untuk mengetahui apakah kuisioner yang digunakan valid/ tidak maka yang telah diperoleh ( r hitung ) dikonsultasikan dengan r tabel product moment dengan taraf signifikan 5%. Apabila r hitung r tabel maka instrument dikatakan valid, apabila r hitung r tabel maka instrument dikatakan tidak valid.

h)       Teknik Analisis Data
Yang dimaksud dengan analisa data adalah cara- cara mengolah data yang terkumpul untuk kemudian dapat memberikan interprestasi. Pengolahan data ini digunakan untuk menguji hipotesa yang telah dirumuskan.

a.         Analisis deskriptif persentase
Analisis ini digunakan untuk mengetahui bagaimana tingkat persentase pelaksanaan sistem pembelajaran berkarakter pada indikator pelaksanaan pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, peningkatan kualitas pembelajaran, dan lingkungan pembelajaran serta pengaruh dalam penerapannya. Perhitungan indeks persentase dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
n = skor yang diperoleh
N = skor ideal
% nilai persentase/ hasil
( Ali Muhammad, 185;184)

b.        Uji Kenormalan Distribusi Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini lebih dahulu diuji kenormalannya
dengan chi kuadrat.
Keterangan:
k = jumlah kelas interval
Qi = frekuensi pengamatan
Ei = Frekuensi yang diharapkan
Derajat kebebasan untuk rumus di atas (dk)=k-3. Jika X2 data < ( 1-α ) ( k-3 )
dengan α = 5% berarti data tersebut berdistribusi dengan normal ( Sudjana,
1992; 273).

c.         Untuk mengetahui korelasi antara variabel X dan Y maka digunakan tehnik korelasi Product moment dari pearson skor halus dengan rumus:

 (Arikunto Suharsimi,1998 :162)


d.        Mencari persamaan garis regresi , yaitu untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara variabel X dan variabel Y, digunakan tehnik analisa regresi linier sederhana dengan persamaan:

Y = a + bX
Dalam mana    : Y = Variabel terikat                    X = Variabel bebas
                               a,b = koefisien regresi
(Sutrisno Hadi, 1992: 1)


DAFTAR PUSTAKA


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. 2005 tentang sistem        Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) . Bandung: CV Nuansa Mulia.
Kosasih, E. 1998. Kapan Anak Belajar Bahasa Inggris. http ://www. Indomedia.Com/intisari/1998/September/bing.htm – 18k.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris
Ratna Megawangi. 2008. Pendidikan Karakter. http//www. Jakarta
Arikunto, Suharsimi, 1991 Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Yogyakarta, Rineka Cipta.
Anas Sujijono, 2003. Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta. PT Raja Grafindo Persada
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Yogjakarta,UGM, 1975.
Hadi, Sutrisno, 1992, Analisis Regresi, Yogyakarta: Andi
Oemar Hambalik, 2003 Proses Belajar Mengajar, Jakarta : Bumi Aksara.
Ibnu, S., Mukhadis, A dan Dasna, I.W., 2003. Dasar-dasar Metodologi Penelitian, Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang
Nasir, Mohammad. Metode Penelitian. Cet.3. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988.
Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES, 1987.




[1] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. 2005 tentang Sistem        Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) . Bandung: CV Nuansa Mulia.

[2] Kosasih, E. 1998. Kapan Anak Belajar Bahasa Inggris. http ://www. Indomedia.Com/intisari/1998/September/bing.htm – 18k.

[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris

[4] http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/01/karakteristik-mata-pelajaran-bahasa.html

[6] Ratna Megawangi. 2008. Pendidikan Karakter. http//www. Jakarta

[7] Harus dicermati bahwa, sementara ini ada definisi prototipe dari penelitian survey yang bervariasi. Sebagai contoh, sebuah survey mungkin mengandung satu pertanyaan yang ditanyakan kepada sejumlah besar responden, seperti dalam pertanyaan sensus. Disamping itu, penelitian survey mungkin juga tumpang tindih dengan penelitian kasus. Yaitu, metode survey dapat digunakan untuk mengumpulkan data dalam sebuah kesatuan tunggal yaitu fokus dari sebuah penelitian kasus. Pertimbangkan contoh ini. Dalam sebuah penelitian kasus terhadap sebuah sekolah, peneliti mungkin memutuskan untuk mensurvey keseluruhan staff pengajar (yaitu seluruh populasi guru) dengan menggunakan kuisioner tertulis. Disamping itu, peneliti tersebut mungkin mensurvey satu sampel dari para guru melalui wawancara.
[8] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Yogjakarta,UGM, 1975. Hal 108.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar